Tampilkan postingan dengan label Khusus Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khusus Remaja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 April 2012

Jadilah Keren Apa Adanya, Jangan Bohongi Diri!


Penampilan rasanya sudah ok. Apa ya yang kurang? Mata Dio berputar-putar menyapu wajah cute-nya di cermin. Ah… kurang keren nih kaya’nya kalau kurang topi. “Tapi, topi sepertinya lagi dicuci nih, Bos,” gumamnya dalam hati. Hmm… topi Dito, kakaknya, keren juga kalau dipadu dengan kaus dan jeans yang dipakainya. Dengan santai, diambilnya topi Dito di kamarnya yang tak terkunci. Kebetulan kakaknya sedang kuliah, jadi Dio dengan leluasa menyarangkan topi berwarna merah terang itu di kepalanya. Eh… jaket Dito kayaknya juga keren. Sekalian aja deh!
Dio berjalan menuju pintu depan. Ups, kantong koq kayaknya kurang tebel nih Man! “Ga’ cukup kayaknya kalau harus latihan basket bawa uang cuma segini,” batin cowok kelas 1 SMU itu. Langkahnya terayun ke kamar Dita, kakak sulungnya. “Mbak, aku pinjam uang dunk,” rengek Dio pada Dita yang sedang mengerjakan tugas akhirnya itu. “Lha, yang kemarin aja belum dipulangin. Lagi juga kamu ‘kan dikasih uang saku buat sebulan sama Ibu. Emang dikemanain?”cecar Dita. “Kurang Mbak, pinjam dunk. Aku janji deh, nanti kalau ibu kasih aku uang lagi, aku ganti uangmu Mbak.” Dita tak kalah sengit, ”Bulan lalu aja utangmu belum lunas! Lho??”
Ya, begitulah hari-hari Dio. Selalu tampil “lebih keren” dengan barang-barang pinjaman. Selalu lebih nge-bossy dengan uang saku sebulan ditambah pinjam sana-sini. Keren sih, tapi yang tahu modal asli Dio pasti akan mencibir.
...Kita membohongi diri kita sendiri bahwa sebenarnya kita bisa tampil keren bahkan lebih keren dengan apa yang kita miliki...
Punya teman seperti Dio? Atau, malah kita sendiri yang terjangkiti penyakit hobi pinjam? Be carefull, ah Sob. Yang satu ini, bisa bikin kita nggak percaya diri, cenderung berbohong, atau malah bisa bikin kita menginginkan barang milik orang lain.
Pinjam-meminjam memang kadang bisa jadi solusi instan untuk memenuhi kebutuhan atau sekadar membuat diri kita merasa lebih ok dihadapan orang lain. Untuk memperoleh barang yang kita inginkan tak perlu pengeluaran ekstra. Bermodal kepercayaan, kita bisa tampil lebih gaya dengan barang yang kita pinjam. Tapi, inilah awal yang paling beresiko bagi diri kita dalam membangun kepercayaan diri. Kita tak cukup percaya diri dengan apa yang kita miliki. Kita tak merasa dengan apa yang kita miliki, kita bisa jadi yang paling keren ”luar-dalam”.
Belajar dari shahabat Umar RA
Padahal Sobat, yang namanya pinjam adalah ajang pertaruhan kepercayaan yang harganya sama spekulatifnya dengan kapan ajal menjemput. Yuk, kita simak sejenak kisah Umar bin Khaththab yang pernah ingin pinjam uang ke Baitul Mal. Umar RA ketika itu getir hatinya melihat anaknya pulang sekolah sambil menangis. Anaknya tersebut diejek teman-temannya, “Lihatlah, anak Amirul Mukminin (presiden) bajunya tambalan seperti itu!”
Melihat anaknya diejek sedemikian, Umar pun merasa iba. Dia lantas mengajukan pinjaman ke Bendahara Negara sebesar empat dirham dengan jaminan gajinya sebagai presiden bulan depan. Namun, jawaban yang diberikan Sang Bendahara Negara sungguh tak terduga, “Wahai Umar, adakah engkau dapat memastikan bahwa engkau masih hidup hingga bulan depan? Bagaimana jika engkau mati sebelum melunasi hutangmu itu? Apa yang akan engkau perbuat terhadap hutangmu di hadapan Allah?”
Umar RA pun menangis ditegur sedemikian rupa oleh bawahannya tersebut. Dia lantas menyuruh anaknya berangkat sekolah seperti biasa. Demikianlah Umar bin Khaththab, presiden kaum Muslimin kedua setelah Rasulullah SAW mangkat. Sedemikian takut belum dapat melunasi hutangnya, bila ajal keburu menjemput. Padahal, beliau adalah presiden yang “dapat berbuat apapun.” Namun, Umar lebih takut pada Rabbnya, dibandingkan harus menyerah pada keinginannya.
Demikian pula dengan kepercayaan yang membebani kita manakala memimjam. Kita tidak tahu apakah barang yang kita pinjam tersebut akan aman selama berada di tangan kita. Apakah kita dapat mengembalikannya dalam keadaan seperti semula, ataukah akan ada sesuatu yang membuat barang yang kita pinjam tersebut rusak atau uang yang kita pinjam tersebut tidak dapat kembali tepat waktu? Lalu, masih adakah umur bagi kita untuk mengembalikannya? Bukankah kalau kita tidak mengembalikan sesuai dengan keadaan semula atau tidak tepat waktu, itu sama saja dengan merusak kepercayaan?
...Kita juga akan cenderung menjadi orang yang membohongi diri dengan menjadikan meminjam sebagai kebiasaan...
Kita juga akan cenderung menjadi orang yang membohongi diri dengan menjadikan meminjam sebagai kebiasaan. Kita akan membohongi potensi kita yang sebenarnya. Kita membohongi diri kita sendiri bahwa sebenarnya kita bisa tampil sama keren bahkan lebih keren dengan apa yang kita miliki. Dengan demikian, kita tidak akan pernah menemukan “siapa kita sebenarnya.”
Bila sudah dalam keadaan akut, kebiasaan pinjam bahkan akan mendorong kita untuk memiliki apa yang kita pinjam tersebut. Maka jadilah barang pinjaman tersebut berubah status menjadi hak milik. Wah repot deh kalau udah sampe kayak gini.
So, sobat… yuk inget-inget banget firman Allah SWT berikut ini: “Dan (ingatlah) ketika Robb-mu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari maka pasti azab-Ku sangat berat” (Qs Ibrahim 7) 
Yuk bersyukur dengan apa yang kita punya. Pinjam? Boleh aja kalau itu memang harus dilakukan untuk hal yang sangat penting. Kalau cuma sekadar menunjang penampilan… kamu udah keren apa adanya koq! [Anis/voa-islam.com]
Continue Reading

Senin, 08 Agustus 2011

CINTA RAMADHAN, HENTIKAN MENGUMBAR MAKSIAT DAN TEGAKKAN AGAMA ISLAM, SEKARANG DAN SETERUSNYA !


Hoyaaa eh Hayooo siapa yang kalau minggu pagi habis sahur di bulan ramadhan pergi ke pantai, bawa pacar, di sana berduaan, bermesraan, malah ada yang minum air kelapa muda, ngakuu.... sebenarnya sih gak papa, kalau memang niatnya ingin masuk neraka, atau ingin diazab oleh Allah Swt di dunia. Orang katanya bulan Ramadhan, bulan puasa, kok masiiiihhh aja maksiatan, maunya apa sih??.

The Satanic Love at Ramadhan

Fenomena seperti ini bisa sobat muda temukan hampir di pantai-pantai atau tempat-tempat yang katanya romantis di seluruh wilayah Indonesia. Kalau gak percaya, silahkan sobat muda kalau ahad pagi ke pantai, jangan lupa bawa kamera atau hape yang ada kameranya, tapi jangan dimakan entar batal puasanya, maksudnya buat jepret tuh remaja-remaja dan anak muda seusia kalian yang masih bergelimang kemaksiatan di bulan Ramadhan, nanti upload di facebook yah, buat dakwah.

Asmara Subuh nihh yeee...

Mereka inilah yang merusak kesucian bulan Ramadhan, bermaksiat ria, padahal setan sudah dibelenggu, lha yang dibelenggu setan yang gaib, setan yang nyata enggak.

TIBA-TIBA SOK ALIM

Sok alim nii yee

Bulan Ramadhan datang, suasana pun menjadi lebih relijius, kita lihat acara-acara di televisi pun tiba-tiba berubah menjadi islami. Artis-artis yang kalau bulan biasa buka-buka baju eh salah buka-buka aurat, yah sekitar wilayah dada, sama paha, sekarang sok alim dengan berpakaian lebih agak tertutup sedikit, ingat cuma sedikit.

Banyak artis-artis yang tiba-tiba rambutnya dikerudungin pakai selendang tembus pandang, walaupun rambutnya masih tembus kelihatan, itupun masih sebagian, katanya biar kelihatan Islami, walaupun yah kalau di bulan biasa ya sama saja, kebanyakan mereka ngajakin maksiat mulu.

Ramadhan Habis ya kembali lagi umbar aurat dan maksiat

Penyanyi-penyanyi yang sering nongol di tivi, kalau bulan biasa nyanyaiannya isinya cinta adalah pacaran, pacaran adalah cinta, dan tidak ada cinta tanpa pacaran, namun pas bulan Ramadhan tiba-tiba nyanyi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, wah-wah, jadi sebenarnya definisi cinta bagi mereka yah tergantung suasana dan yang ngasih duit. Makanya mereka tiba-tiba ngarang lagu yang bernuansa Islami khusus bulan Ramadhan, karena menyesuaikan suasana. Sok alim.

Beberapa perusahaan Kapitalis seperti Coca Cola dan lainnya pun tiba-tiba sok religius, iklan-iklan mereka bernuansa Ramadhan,walaupun masih tetap banyak kekurangan di sana sini. Tak ketinggalan layanan-layanan sms premium yang biasanya mengumbar hal-hal yang tidak penting seperti ramalan, zodiak, cinta pacaran, dan lainnya, kini berlomba-lomba menjual sms religi dari ustad-ustad yang kurang profesional atau terlalu mengkomersilkan ayat-ayat Al Quran.

Bunglon Sekuler



Kalau di dunia manusia ada kelompok sekuler, yaitu kelompok yang menginginkan agama di pisahkan dari pengaturan kehidupan, nah di dunia hewan juga ada bunglon sekuler, masa sih...

Maksudnya bukan bunglon dalam artian hewan reptilia yang bisa berubah warna menyesuaikan lingkungannya, tapi bunglon di sini yah manusia sekuler itu.
Menurut pandangan orang sekuler itu beragama Islam dan menaati Syariatnya yah tergantung tempat, kalau di masjid ya menutup aurat pakai mukena kalau cewek, keluar dari masjid buka lagi sekwildanya dan bekatulnya, apaan tuh???, sekwilda yah sekitar wilayah dada, bekatul yah berkisar atas dengkul. Kemudian masuk diskotik, habis itu pacaran bermesraan, ciuman. Kalo bulan puasa yah agak sedikit dikurangi pacarannya, ciuman yang biasanya seminggu 3 kali jadi seminggu sekali.

Ya itulah bunglon, berubah-rubah, tergantung tempat, kalau di masjid atau bulan ramadhan ya sok alim, tapi bulan lain atau di tempat lain yah maksiatan lagi deh.

Mulut Puasa, Nafsu Gak Puasa



Jadi keinget sama lagu dari boyband Korea, wah penulis tahu juga Boyband Korea, iya kan sekarang lagi musim demam berdarah Korean Holic, apa-apa Korea, sinetron Korea, dan anak-anak muda kita jiplak habis gaya-gaya Korea. Iya penulis ingat lagu Boyband Korea yang anggotnya Sule, Andre Taulani, Nunung, Adul, Parto ki Dalang, Opie Kumis, Aziz Gagap, yang judulnya Bibirmu Ndower itu.

Ngomong-ngomong masalah bibir ndower, ada lhoo teman kalian yang puasa-puasa bibirnya kelihatan ndower, nah ini mencurigakan, pertama bibirnya merah ndower karena mungkin makan es krim, jangan-jangan dia tidak puasa, atau mungkin habis ciuman dengan pacarnya, soalnya kalau nyium yang lain misal aspal sama tembok beda lhoo ndowernya.

Foto Republika : Puasa Jalan Pacaran tetep Jalan

Eh ini bukan bermaksud gosipin orang, tapi ini gambaran bahwa kebanyakan remaja-remaja kita itu munafik, ngomong puasa, tapi nafsunya gak ikut puasa, dia memang gak makan minum, tapi pacaran, nah kalau di bulan biasa saja pacaran haram karena mendekati zina, kok di bulan Ramadhan malah gak tobat-tobat.

MENGGAPAI BERKAH DAN CINTA RAMADHAN YANG SEBENARNYA


Semua kaum muslimin sepakat kalau bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan hikmah. Bulan Ramadhan adalah bulan dimana kaum muslimin diwajibkan untuk berpuasa, sebagaimana firman Allah Swt

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” ( Al Baqarah 183 ).

Allah Swt memerintahkan manusia untuk berpuasa untuk lebih mengontrol hawa nafsunya, agar nafsu yang Dia karuniakan kepada manusia menjadi nafsu yang membawa kebaikan setelah bulan Ramadhan, bukan kembali menjadi liar, lha buat apa lapar-lapar puasa, kalau kita gak bisa mengendalikan hawa nafsu ke arah kebaikan.

Al Ghazali mengatakan nafsu bagaikan kuda liar, yah itu perumpamaan dari ulama jaman dahulu, dimana menggambarkan manusia saat itu dalam mencari kendaraan. Seekor kuda liar tentu tidak begitu saja bisa dijadikan tunggangan, kuda itu harus ditangkap dahulu, lalu dijinakan, baru dijadikan tunggangan, bukan membiarkan keliarannya, atau menungganginya selagi dia masih liar jelas berbahaya.

Nafsu pun begitu, siapa bilang menuruti hawa nafsu itu mesti haram, gak semua menuruti hawa nafsu itu pasti haram. Manusia adalah makhluk yang terlemah dibandingkan makhluk lain, sehingga manusia diberi nafsu agar dia mampu bertahan hidup dan menaklukan kerasnya dunia. Berbeda dengan malaikat, yang merupakan makhluk yang tidak mati sampai hari kiamat, sehingga tidak diberi nafsu, malaikat tak perlu makan, karena mereka tidak mati sampai kiamat, malaikat tak perlu nafsu seksual karena mereka umurnya sampai hari kiamat.

Beda dengan manusia, umur manusia terbatas di dunia, fisiknya lemah, makanya manusia perlu nutrisi untuk tubuhnya sehingga perlu nafsu makan, manusia perlu berketurunan untuk menjamin generasi sampai hari kiamat, sehingga perlu nafsu seksual.

Menikah dan Berkeluarga, itulah cara Syariat Islam mengendalikan hawa nafsu 

Namun manusia juga diberi akal, dan dibekali aturan hidup yang berupa agama tauhid, tujuannya untuk menjadi pegangan hidup baginya di dunia, agar selamat dunia maupun akhirat. Kita boleh menuruti nafsu namun harus sesuai Syariat, misal kita lapar terus ada makanan, maka kita telaah dulu makanan siapa itu?, didapat dari mana?, haram gak bahan-bahan untuk membuatnya, dan sebagainya, kalau mau menuruti nafsu seksual yah nikah dong, gak pakai pacar-pacaran dulu yang malah gak jelas nanti statusnya dan mendekati zina. Gak pacaran ya gak papa, jodoh itu ada yang ngatur, Islam punya sistem tersendiri dalam mencari jodoh yaitu proses taaruf.

Dengan kita mampu lebih mengendalikan hawa nafsu di bulan Ramadhan, maka diharapkan kita akan memperoleh berkah dan rahmat-Nya di bulan suci ini. Nafsu kita jadi lebih terarah ke dalam kebaikan yang hakiki. Karena itulah gunanya puasa, yaitu menjadikan diri kita untuk berbeda dari mereka para kaum kafir ( non muslim ), yaitu diri yang lebih sempurna dengan akhlak dan moralitas yang luhur.

DENGAN SHAUM ATAU PUASA, KITA BERHARAP MENJADI MANUSIA YANG CINTA KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA


Islam adalah agama tauhid terakhir yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw dan didakwahkan kepada seluruh manusia di dunia. Islam berbeda dengan agama tauhid sebelumnya yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad, yaitu Islam agama untuk semua bangsa.

Islam juga berbeda dengan agama-agama hasil buatan manusia seperti Kristen, Yahudi, Hindu, Budha dan sebagainya. Islam agama yang sempurna, yaitu sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal, dan menenangkan hati nurani. Sedangkan agama selain Islam paling banter cuma nenang-nenangin hati sementara doang, sedangkan dalam hal fitrah dan kepuasan intelektual, jauh dari harapan, karena umumnya isinya yang Cuma sebatas gituan.

Islam Memiliki Aturan Yang Disebut Syariat Islam


Isi dari agama Islam, adalah akidah dan syariat, dimana keduanya harus dianut dan dipakai oleh kaum muslimin secara sempurna. Akidah Islam adalah dua kalimat Syahadat, yang membawa pada konsekuensi melaksanakan Syariat Islam secara menyeluruh.

Allah menurunkan Syariat Islam untuk mengatur tatanan dunia, karena dunia tak akan berkah tanpa Syariat Islam, lihat saja, kerusakan hutan, lingkungan, bahkan kemiskinan dan amburadulnya ekonomi dan politik itu semua di sebabkan karena manusia seenaknya sendiri dalam membuat aturan di dunia tanpa mau tunduk kepada Syariat Allah yaitu Syariat Islam.

Untuk itulah kalau kita ingin mendapatkan cinta Allah dan Rasul-Nya, maka kuncinya Cuma satu, tegakkan Syariat Islam secara kaffah, maka denganya, kita akan mendapat keberkahan dari langit dan bumi.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. ( QS. Al A’Raf ayat 96 ).
Continue Reading
 

Mengenai Saya

Foto saya
Saya adalah seorang pelajar yang sedang belajar tentang hal-hal yang berhubungan tentang agama dan dunia maya

Terjemahkan Ke bahasa Lain

Para Sahabat

D-Islamic Empires Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template